Senin, 09 Maret 2009

Materi Kuliah Bahasa Indonesia 1 [02]

Materi Perkuliahan: Bahasa Indonesia 1
Pertemuan ke: 2
Dosen Pengampu: Indra Tjahyadi, S.S.
Pokok Bahasan: Mengenal Bahasa
Sub Pokok Bahasan: 1. Pengertian Bahasa, 2. Fungsi Bahasa

MENGENAL BAHASA

I. Pengertian Bahasa

Manusia adalah mahluk berbahasa. Segala hal dalam hidup manusia senantiasa berkaitan dengan bahasa. Tak ada satu pun aspek dalam kehidupan manusia yang lepas dari bahasa. Bahasa adalah dasar pertama-tama dan paling berurat-akar bagi manusia.

Bagi manusia, bahasa adalah media yang dipakainya untuk membentuk dan mengkomunikasikan pikiran dan pikirannya, keinginan dan perbuatannya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Dari pengartian yang diberikan oleh KBBI tersebut ada empat hal yang menarik untuk dicermati. Pertama, bahasa merupakan sistem.

Bahasa sebagai sebuah sistem merupakan suatu susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur menurut pola tertentu, dan membentuk satu kesatuan.

Sebagai sebuah sistem, bahasa sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Bersifat sistematis, artinya bahwa bahasa tersusun menurut satu pola yang tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sementara secara sistemis berarti bahwa bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tapi terdiri juga dari sub-sistem atau sistem bawahan, seperti sub-sitem fonologi, sub-sistem morfologi, sub-sitem sintaksis, sub-sistem semantik. Kemudian tiap-tiap unsur dalam subsistem-subsistem tersebut juga tersusun menurut aturan atau pola tertentu, yang secara keseluruhan membentuk satu sistem. Jika tidak tersusun menurut aturan atau pola tertentu, maka subsistem tersebut tidak dapat berfungsi.

Hal kedua yang menarik untuk dicermati dari pengartian bahasa yang diberikan oleh KBBI adalah lambang. Lambang adalah bentuk visual bahasa. Dengan lambang, bahasa memiliki wujud yang dapat dikenali manusia secara visual.

Manusia adalah animal symbolicum atau mahluk bersimbol. Sebagai mahluk bersimbol atau mahluk berlambang, maka setiap aspek kehidupan manusia hampir selalu bersentuhan dengan simbol atau lambang. Simbol atau lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung. Untuk mengenalinya diperlukan pengenalan terhadap konvensi yang melatari lambang tersebut. Misalnya, tanda huruf "P" besar dicoret pada rambu-rambu lalu lintas. Kita tak akan mengenali bahwa tanda tersebut berarti bahwa kendaraan dilarang parkir apabila kita tidak mengenal konvensi tentang rambu-rambu lalu lintas.

Tapi keberadaan lambang dalam bahasa tersebut akan tidak berarti apabila tidak ada bunyi. Bunyi juga merupakan hal penting bagi bahasa. Keberadaan lambang dan bunyi dalam bahasa adalah sejajar.

Secara teknis, bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Ia bisa bersumber pada gesekan atau benturan benda-benda, alat suara pada binatang dan manusia. Tapi, tidak setiap bunyi dapat dikatakan bunyi bahasa.

Bahasa merupakan alat komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi-suara, yang dihasilkan oleh alat-ucap manusia. Tapi untuk dikatakan bahwa sebuah bunyi itu merupakan bunyi bahasa, ia haruslah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Meskipun demikian ini tidak berarti bahwa setiap bunyi yang dihasilkan manusia merupakan bahasa

Bunyi-bunyi seperti bunyi bersin, batu-batu, atau tangisan bayi bukanlah bunyi bahasa. Karena bahasa mengandaikan adanya sistem yang bersifat sistematis dan sistemis, maka untuk dapat menjadi bunyi bahasa, sebuah bunyi haruslah memiliki sistem. Dalam masyarakat pengguna bahasa, sistem tersebut dapat dikelani sebagai konvensi. Setiap bahasa memiliki konvensinya masing-masing. Misalnya, bunyi kata anjing tak akan berarti apa-apa bagi masyarakat pengguna bahasa Inggris. Begitu juga dengan kata dog. Kata ini tak akan berarti apa-apa bagi mereka yang berada di luar para pengguna bahasa Inggris.

Hal berikutnya yang patut dicermati dari pengartian yang diberikan KBBI atas bahasa adalah arbitrer. Yang dimaksud dengan arbitrer adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dengan kata lain, hubungan antara bahasa dan wujud bendanya hanya didasarkan pada kesepakatan antara penurut bahasa di dalam masyarakat bahasa yang bersangkutan. Misalnya, lambang bahasa yang berwujud bunyi kuda dengan rujukannya yaitu seekor binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, tidak ada hubungannya sama sekali, tidak ada ciri alamiahnya sedikit pun.

Hubungan antara lambang bahasa yang berwujud bunyi kuda dengan rujukannya yaitu seekor binatang berkaki empat yang biasa dikendarai tersebut baru memiliki hubungan karena kebetulan dalam bahasa Indonesia konsep "binatang berkaki empat yang biasa dikendarai" tersebut dilambangkan dengan bunyi kuda.

Sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri, bahasa terdiri dari dua bagian besar yaitu bentuk dan makna.

Bentuk bahasa adalah bagian bahasa yang dapat dicerap oleh pancaindra manusia entah dengan mendengar ataupun membaca. Bentuk bahasa dapat dibagi atas dua bagian yaitu unsur-unsur segmental dan unsur-unsur suprasegmental. Unsur-unsur segmental adalah bagian dari bentuk bahasa yang dapat dibagi-bagi atas bagaian-bagian atau segmen-segmen yang lebih kecil, seperti wacana, kalimat, kalusa, frasa, kata, morfem, suku kata, dan fonem. Sementara unsur-unsur suprasegmental adalah bagian dari bentuk bahasa yang kehadirannya tergantung dari unsur-unsur segmental.

Unsur-unsur suprasegmental bahasa terdiri dari intonasi dan unsur-unsur bahawannya yang kehadirannya tergantung dari unsur-unsur segmental. Unsur intonasi adalah tekanan (keras/lembutnya arus-ujaran), nada (tinggi/rendahnya arus-ujaran), durasi (panjang/pendeknya arus ujaran), dan perhentian (pembagian dalam arus-ujaran).

Selain bentuk, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa bahasa juga terdiri dari makna. Makna bahasa juga dikenal sebagai arti. Makna atau arti ini merupakan isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan adanya reaksi. Setiap makna dapat menimbulkan reaksi tertentu. Adanya makna ini membuat setiap orang dapat memahami dan melakukan reaksi terhadap lawan bicaranya.

Makna banyak bentuknya, ada makna leksikal (makna yang timbul dari kata tertentu), ada makna sintaktis (makna yang timbul karena rangkaian kata-kata yang membentuk frasa, klausal, kalimat), dan ada juga makna wacana (makna yang timbul dari sebuah wacana).

II. Fungsi Bahasa

Bahasa adalah media bagi manusia. Sebagai media memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang pertama dari bahasa adalah media komunikasi.

Sebagai bagian dari masyarakat, manusia membutuhkan media agar dapat berkomunikasi dengan sesamanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhannya dalam berkomunikasi itu manusia membutuhkan bahasa. Bahasa adalah media komunikasi antar manusia. Sebagai media komunikasi, bahasa digunakan oleh manusia sebagai anggota masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sesama anggota dalam masyarakat yang dia huni.

Hubungan atau komunikasi ini dapat dilakukan secara perseorangan ataupun secara berkelompok. Dalam penggunaan sebagai media komunikasi secara berkelompok, bahasa dapat dipergunakan sebagai sarana untuk menjalin kerja sama dengan pihak lain, baik untuk kepentingan perseorangan, kelompok, maupun kepentingan bersama. Selain itu, bahasa, dalam fungsinya sebagai media komunikasi, juga dapat dipergunakan untuk bertukar pendapat, berdiskusi, atau membahas suatu persoalan yang dihadapi.

Selain sebagai media untuk berkomunikasi, bahasa juga berfungsi sebagai media ekspresi diri.

Sebagai media ekspresi diri, bahasa merupaka sarana untuk mengekspresikan atau mengungkapkan segala sesuatu yang mengendap di dalam pikiran dan perasaan manusia. Selain itu, sebagai media ekpresi diri, bahasa juga seringkali digunakan untuk menyatakan keberadaan atau eksistensi seseorang kepada orang lain.

Sebagai media ekspresi diri, bahasa bukan saja mencerminkan gagasan dan pikiran, melainkan juga mencerminkan perasaan dan perilaku seseorang.

Fungsi ketiga dari bahasa adalah sebagai media integrasi dan adaptasi sosial. Sebagai alat integrasi, bahasa memungkinkan setiap penuturnya merasa diri dengan kelompok sosial masyarakat yang menggunakan bahasa yang sama, sehingga para anggota dari kelompok sosial tersebut dapat melakukan kerja sama dan membentuk masyarakat bahasa yang sama. Sementara sebagai media adaptasi sosial, bahasa memungkinkan seseorang menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan anggota masyarakat lain yang menggunakan bahasa yang sama.

Fungsi keempat dari bahasa adalah sebagai media kontrol sosial. Sebagai media kontrol sosial, bahasa dapat digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas sosial, merencanakan berbagai kegiatan, dan mengarahkannya ke dalam suatu tujuan yang diinginkan. Selain itu, dalam fungsinya sebagai media kontrol sosial, bahasa dapat juga dipakai untuk menganalisis dan mengevaluasi berbagai aktivitas yang dilakukan oleh seseorang. Sebab dengan bahasa seseorang dapat memberikan perintah atau instruksi kepada seseorang lainnya untuk melakukan suatu aktivitas atau melarangnya melakukan aktivitas tersebut. Dengan kata lain, dalam fungsinya sebagai media kontrol sosial, bahasa dapat dimanfaatkan untuk mengontrol segala aktivitas yang dilakukan manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar