Rabu, 01 April 2009

Materi Kuliah Pengantar Filsafat [03-04]

Universitas: Panca Marga
Fakultas: Sastra dan Filsafat
Program Studi: Sastra Inggris
Materi Perkuliahan: Pengantar Filsafat
Pertemuan ke: 3 & 4
Dosen Pengampu: Indra Tjahyadi, S.S.
Pokok Bahasan: Cabang-cabang Filsafat
Sub Pokok Bahasan: 1. Epistemologi, 2. Metafisika, 3.
Logika, 4. Etika, 5. Estetika

CABANG-CABANG FILSAFAT

I. Pengertian Cabang Filsafat

Cabang-cabang filsafat adalah bidang-bidang studi filsafat. Ia merupakan cabang-cabang penyelidikan yang ada di dalam filsafat.

Aristoteles membagi filsafat menjadi tiga cabang, yakni filsafat spekulatif atau filsafat teoritis, filsafat praktika, dan filsafat produktif. Menurut Aritoteles, Filsafat spekulatif atau filsafat teoritis adalah filsafat yang bersifat objektif. Tujuan utama filsafat ini adalah pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. Fisika metafisika, biopsikologi, dsb adalah bidang-bidang filsafat yang termasuk dalam cabang filsafat ini. Filsafat praktika merupakan filsafat yang memberi petunjuk dan pedoman bagi tingkah laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya. Sasaran filsafat ini adalah untuk membentuk sikap dan perilaku yang akan memampukan manusia untuk bertindak dalam terang pengetahuan. Yang termasuk dalam cabang filsafat ini adalah etika dan politik. Sementara filsafat produktif ialah filsafat yang membimbing dan menuntuk manusia untuk menjadi lebih produktif lewat suatu keterampilan khusus. Tujuannya agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu, baik secara teknis maupun puitis dalam terang pengetahuan yang benar. Kritik sastra, retotika, dan estetika merupakan bidang-bidang dalam cabang filsafat ini.

Tetapi, perkembangan peradaban kehidupan manusia menuntut filsafat untuk lebih memperluas bidang penyelidikannya. Saat ini, cabang-cabang filsafat dapat dibagi menjadi lima cabang pokok: epistemologi, metafisika, logika, etika dan estetika.

II. Cabang-cabang Filsafat

II. 1 Epistemologi

Adakalanya, epistemologi disebut "teori pengetahuan". Secara etimologis, istilah epistemology berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari kata episteme dan logos. Kata episteme berarti pengetahuan, sedangkan kata logos berarti kata, pikiran, percakapan, atau ilmu. Jadi, epistemologi berarti kata, pikiran, percakapan, ilmu tentang pengetahuan.

Epistemologi adalah cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Ia menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya pengetahuan. Dalam epistemologi, pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal dan jenis-jenis pengetahuan dibicarakan. Oleh sebab itu pertanyaan-pertanyaan seperti "apakah pengetahuan itu?", "apakah yang menjadi sumber dan dasar pengetahuan itu?" merupakan pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan dalam cabang filsafat ini.

Di dalam epistemologi, ada beberapa teori yang biasa digunakan untuk menilai kesahihan pengetahuan, pertama, teori kesahihan koherensi (coherence theory of truth). Teori ini menegaskan bahwa suatu proposisi (pernyataan suatu pengetahuan) diakui sahih jika proposisi itu memiliki hubungan dengan gagasan-gagasan dari proposisi sebelumnya yang juga sahih dan dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan ketentuan-ketentuan logika.

Teori kedua yang biasa digunakan untuk menilai kesahihan pengetahuan dalam epistemologi adalah teori kesahihan korespondensi/ saling bersesuaian (correspondence theory of truth). Menurut teori ini, suatu pengetahuan itu sahih apabila proposisi bersesuaian dengan realitas yang menjadi objek pengetahuan itu. Kesahihan korespondensi itu memiliki pertalian yang erat dengan kebenaran dan kepastian indrawi. Dengan demikian, kesahihan pengetahuan itu dapat dibuktikan secara langsung.

Teori kesahihan pragmatis (pragmatical theory of truth) adalah teori kesahihan pengetahuan ketiga dalam epistemology. Teori ini menegaskan bahwa pengetahuan itu sahih jika proposisinya memiliki konsekuensi-konsekuensi kegunaan atau benar-benar bermanfaat bagi yang memiliki pengetahuan itu. Teori ini adalah teori kesahihan yang telah dikenal secara tradisional.

Teori berikutnya yang biasa digunakan dalam epistemologi adalah teori kesahihan semantik (semantic theory of truth). Teori ini adalah teori yang menekankan arti dan makna suatu proposisi. Bagi teori ini, proposisi harus menunjukkan arti dan makna sesungguhnya yang mengacu kepada referan atau realitas dan bisa juga arti definitive yang menunjuk ciri khas yang ada.

Teori kesahihan logika yang berlebihan (logical superfluity theory of truth) adalah teori kelima yang biasa digunakan dalam epistemologi untuk menilai kesahihan suatu pengetahuan. Teori ini hendak menunjukkan bahwa proposisi logis yang memiliki termin berbeda tetapi berisi informasi sama tak perlu lagi dibuktikan, atau ia telah menjadi suatu bentuk logika yang berlebihan. Misalnya, siklus adalah lingkaran atau lingkaran adalah bulatan. Dengan demikian proposisi lingkaran itu bulan tak perlu dibuktikan lagi kebenarannya.

II. 2 Metafisika

Kata metafisika saat ini memiliki banyak arti. Ia bisa berarti upaya untuk mengkarakterissi esistensi atau realitas sebagai suatu keseluruhan, atau juga bisa bisa berarti usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau menyelidiki apakah hakikat yang berada di balik realitas. Secara etimologis, kata metafisika ini berasal dari bahasa Yunani meta ta physika yang berarti hal-hal yang terdapat sesudah fisika. Kata ini merupakan kata bentukan dari kata meta yang berarti setelah, melebihi, dan kata physikos yang berarti menyangkut alam.

Metafisika adalah suatu pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang ada. Ia bersangkut paut dengan pertanyaan mengenai hakekat 'yang-ada' yang terdalam. Menurut Bagus (2000: 624-625), metafisika memiliki beberapa pengertian, yakni:
(1) kajian menyeluruh, koheren dan konsisten tentang realitas (keberadaan, alam semesta) sebagai suatu keseluruhan;
(2) studi tentang yang-ada dan bukan tentang yang-ada dalam bentuk suatu keberadaan particular (barang, objek, entitas, aktivitas);
(3) studi tentang ciri-ciri alam semesta yang sangat umum, bersifat tetap, dan mencakup: eksistensi, perubahan, waktu, hubungan sebab-akibat, tempat, substansi, identitas, keunikan, perbedaan, kesatuan, keanekaan, kesamaan, ketunggalan;
(4) studi tentang realitas akhir-realitas sebagaimana terbentuk dalam dirinya sendiri yang terpisah dari tampakan-tampakan yang bersifat ilusif yang disajikan dalam persepsi kita;
(5) studi tentang dasar (prinsip, alasan, sumber, sebab) eksistensi segala sesuatu yang mendasari, serta penuh dalam dirinya sendiri, yang tidak tergantung dan yang sepenuhnya menentukan sendiri, yang justru menjadi dasar bagi eksistensi yang lain;
(6) studi tentang suatu realitas transenden yang merupakan sebab (sumber) semua eksistensi;
(7) studi tentang segala sesuatu yang bersifat rohani (gaib, adikodrati, supranatural, immaterial) dan yang tidak dapat diterangkan dengan metode-metode penjelasan yang ditemukan dalam ilmu-ilmu alam;
(8) studi tentang apa yang berdasarkan kodratnya harus ada dan tidak dapat menjadi selain dari apa adanya;
(9) studi kritis terhadap asumsi-asumsi (praduga-praduga, keyakinan-keyakinan dasar) yang mendasari, yang digunakan oleh sistem-sistem pengetahuan kita dalam pernyataannya tentang apa yang nyata.

Metafisika dibagi menjadi metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum biasa disebut juga Ontologi. Istilah ini muncul sekitar pertengahan abad ke 17. Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani on atau ontos dan logos. Kata on atau ontos berarti ada atau keberadaan, sementara kata logos berarti studi atau ilmu tentang.

Metafisika umum atau ontologi, berbicara tentang segala sesuatu secara sekaligus. Ia berbicara tentang segala sesuatu sejauh itu "ada". Ia membicarakan asa-asa rasional dari yang ada, selain itu ia juga berusaha untuk mengetahui esensi terdalam dari 'yang-ada'. Bagi metafisika umum, "adanya" segala sesuatu merupakan suatu "segi" dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan mahluk-mahluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu.

Dalam metafisika umum, pembahasan mengenai segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus dilakukan dengan membedakan dan memisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari penampakan atau penampilan eksistensi itu. Oleh karena itu, metafisika umum senantiasa memulai penyelidikannya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam "apakah kenyataan itu merupakan kesatuan atau tidak?", "apakah alam raya adalah peredaran abadi di mana semua gejala selalu kembali,, seperti dalam siklus musim-musim, atau justru suatu proses perkembangan?"

Menurut Bagus (2000: 764-767) metafisika khusus atau ontologi merupakan:
(1) studi tentang ciri-ciri esensial dari Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus;
(2) cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan kategori-kategori seperti: ada/ menjadi, aktualitas/ potensialitas, nyata/ tampak, perubahan, waktu, eksistensi/ noneksistensi, esensi, keniscayaan, yang-ada sebagai yang-ada, ketergantungan pada diri sendiri, han mencakupi diri sendiri, hal-hal terakhir, dasar;
(3) cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat Ada yang terakhir (Yang Satu, Yang Absolut, Bentuk Abadi Sempurna), menunjukkan bahwa segala hal tergantung padanya bagi eksistensinya, menghubungkan pikiran dan tindakan manusia yang bersifat individual dan hidup dalam sejarah dengan realitas tertentu;
(4) cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan "apa arti 'ada', 'berada'?", yang menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat dikatakan ADA, berada;
(5) cabang filsafat yang menyelidiki status realitas suatu hal (misalnya: "apakah objek pencerapan atau persepsi kita nyata atau bersifat ilusif (menipu)?", "apakah bilangan itu nyata?", "apakah pikiran itu nyata?"), yang menyelidiki jenis realitas yang dimiliki (misalnya: "apakah jenis realitas yang dimiliki bilangan? Persepsi? Pikiran?"), dan yang menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut realitas dan/ atau ilusi (misalnya" "apakah realitas-atau ciri ilusif-suatu pikiran atau objek tergantung pada pikiran kita, atau pada suatu sumber yang eksternal yang independen?").

Selain metafisika umum atau ontology, metafisika juga dibagi ke dalam metafisika khusus yang meliputi teologi metafisik, filsafat antropologi, dan kosmologi.

Teologi metafisik berhubungan erat dengan ontologi, karena cabang filsafat ini menyelidiki apa yang dapat dikatakan tentang adanya Allah, lepas dari agama, lepas dari wahyu. Dengan kata lain, eksistensi Allah hendak dipahami secara rasional. Dalam cabang filsafat ini, Allah menjadi suatu sistem filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan lewat metode ilmiah.

Karena menekankan penyelidikannya pada eksistensi Allah, cabang filsafat ini sering kali dijumbuhkan dengan sebutan "teodise". Penyebutan teologi metafisik ini dengan "teodise" kurang cocok, sebab teodise sendiri sebenarnya hanyalah bagian dari cabang filsafat ini. Ini karena teodise adalah cabang filsafat yang mencoba menerangkan bahwa kepercayaan kepada Allah tidak bertentangan dengan kenyataan kejatahan. Atau dalam kata lain, teodise hanya membahas dan membenarkan kepercayaan Allah Yang Mahakuasa di tengah-tengah realitas kejahatan yang merajalela di dunia ini. Jadi, apa yang dibicarakan oleh teodise hanyalah satu bagian dari pembicaraan teologi metafisik.

Secara tradisional, teologi metafisik terdiri dari pembicaraan tentang bukti-bukti untuk adanya Allah, dan pembicaraan tentang nama-nama ilahi. Descartes, Thomas Aquinas, dan Immanuel Kant adalah beberapa nama dari banyak nama filsuf yang terkenal dalam pembicaraan teologi metafisik.

Metafisika khusus lainnya adalah filsafat antropologi. Filsafat antropologi merupakan cabang filsafat yang berbicara tentang manusia. Ia berupaya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti "apakah manusia itu?", "apakah hakekat manusia itu?". Atau dengan kata lain, filsafat antropologi merupakan filsafat yang membicarakan manusia sebagaimana adanya, baik apakah itu menyangkut esensi, eksistensi, status, ataupun relasi-relasinya.

Kata antropologi yang berada dalam istilah filsafat antropologi ini berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti manusia. Socrates dapat dikatakan merupakan pelopor dari cabang filsafat ini.

Kosmologi juga merupakan cabang dari metafisika khusus. Secara etimologis, istilah kosmologi yang kita kenal saat ini berasal dari dua kata Yunani kosmos dan logos. Kata kosmos berarti duania atau ketertiban, sedangkan kata logos berarti kata, percakapan atau ilmu. Jadi kosmologi berarti percakapan tentang dunia atau alam dan ketertiban yang paling fundamental.

Cabang filsafat ini memandang alam sebagai suatu totalitas dari fenomena dan berupaya untuk memadukan spekulasi metafisik dengan evidensi ilmiah di dalam suatu kerangka yang koheren. Ia membicarakan asas-asas rasional dari 'yang-ada yang teratur'. Ia berusaha mengetahui ketertiban serta susunannya. Hal-hal yang biasa disorot dan dipersoalkan dalam kosmologi adalah mengenai ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan dan keabadian, dengan menggunakan metode yang bersifat rasional. Dalam perkembangannya, cabang filsafat ini banyak memberi bantuan bagi ilmu-ilmu alam.

II. 3 Logika

Logika merupakan cabang filsafat yang tidak mengajar apa pun tentang manusia atau dunia. Ia merupakan suatu teknik atau "seni" yang mementingkan segi fomal, bentuk dari pengetahuan. Logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan tertentu. Ia adalah cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan cara berpikir, aturan-aturan mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan yang kita lontarkan sah.

Berpikir merupakan obyek material logika. Logika menyelidiki, merumuskan serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati agar dapat berpikir lurus, tepat, dan teratutur. Asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan sehat merupakan lapangan keilmuan logika.

Istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium (334-262 SM). Secara etimologis, istilah logika adalah istilah yang dibentuk dari kata Yunani logikos. Kata logikos ini berasal dari kata logos yang berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan, dan bahasa. Sementara kata logikos sendiri berarti mengenai sesuatu yang diutarakan, mengenai suatu pertimbangan akal (pikiran), mengenai kata, mengenai percakapan, atau yang berkenaan dengan bahasa. Jadi, secara etimologis, logika berarti suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.

Logika dapat dibedakan atas dua macam, yakni logika kodratiah dan logika ilmiah. Logika kodratiah adalah logika yang berkerja berdasarkan hukum-hukum logika yang berasal dari akal budi manusia yang muncul dengan cara spontan. Sementara logika ilmiah ialah logika yang yang berkerja menurut hukum-hukum logika ilmiah. Meski kedua hal ini dapat dibedakan, tetapi kedua macam logika ini tidak dapat dipisahkan. Karena logika ilmiah membantu logika kodratiah.

Akal budi dapat bekerja menurut hukum-hukum logika dengan cara yang spontan. Tetapi dalam hal-hal yang sulit baik akal budinya maupun seluruh diri manusia dapat dan nyatanya dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Selain itu, baik manusia sendiri maupun perkembangan pengetahuannya sangat terbatas.

Hal semacam ini menyebabkan bahwa kesesatan tidak dapat dihindarkan. Namun dalam diri manusia sendiri juga terasa adanya kebutuhan untuk menghindarkan sekesatan itu. Untuk menghindarkan kesesatan itu diperlukan suatu ilmu khusus yang merumuskan asas-asas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran.

Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Berkat pertolongan logika ini akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Sehingga kesesatan dapat dihindarkan, atau paling tidak dikurangi.

Logika dibagi dalam dua cabang utama, yakni logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif disebut juga logika formal. Logika ini membucarakan susunan proposisi-proposisi dan penyimpulan yang sifat keharusannya berdasarkan atas susunannya. Ia berusaha menemukan aturan-aturan yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang bersifat keharusan dari satu premis tertentu atau lebih. Dalam logika ini, ada perangkat aturan yang dapat diterapkan hampir-hampir secara otomatis. Contoh: bila a termasuk b, dan b termasuk c, maka a termasuk dalam c.

Logika induktif mencoba untuk menarik kesimpulan tidak dari susunan proposisi-proposisi, melainkan dari sifat-sifat seperangkat bahan yang diamati. Ia mencoba untuk bergerak dari satu perangkat fakta yang diamati secara khusus menuju ke pernyataan yang bersifat umum mengenai semua fakta yang bercorak demikian, atau dari suatu perangkat akibat tertentu menuju kepada sebab atau sebab-sebab dari akibat-akibat tersebut. Dalam logika induktif hukum-hukumnya bersifat probalilitas.

II. 4 Etika

Etika merupakan cabang filsafat yang sangat berpengaruh sejak zaman Socrates (470-399 SM). Etika adalah cabang filsafat yang berbicara tentang "praksis" manusiawi, tentang tindakan. Ia merupakan cabang filsafat yang bersangkutan dengan tanggapan-tanggapan mengenai tingkah laku yang betul.

Etika juga sering disebut sebagai filsafat moral, karena ia menyelidiki semua norma moral. Istilah etika berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani ethos dan ethikos. Ethos berarti sifat, watak, kebiasaan, tempat yang biasa. Sementara ethikos berarti susila, keadaban atau kelakukan dan perbuatan yang baik. Jadi, etika adalah cabang filsafat yang membahas mengenai naik-buruk atau benar-tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia.

Etika tidak mempersoalkan apa atau siapa manusia itu, tetapi bagaimana manusia itu seharusnya berbuat atau bertindak. Ia berusaha untuk menemukan fakta-fakta mengenai situasi kesusilaan agar dapat menerapkan norma-norma terhadap fakta-fakta. Tujuannya untuk menemukan norma-norma bagi hidup lebih baik.

Beberapa ahli membagi etika ke dalam tiga bidang studi, yakni etika deskriptif, etika normatif dan metaetika.

Etika deskriptif adalah etika yang mencoba menguraikan dan menjelaskan kesadaran dan penerimaan moral secara deskriptif. Ia senantiasa bertolak dari kenyataan ada berbagai fenomena yang dapat digambarkan dan diuraikan secara ilmiah. Ia berusaha memberikan gambaran dari gejala kesadaran moral ("suara batin") dari norma-norma dan konsep etis. Etika ini digolongkan ke dalam bidang studi empiris dan berhubungan erat dengan sosiologi. Dalam hubungannya dengan sosiologi, etika ini berusaha menemukan dan menjelaskan kesadaran, keyakinan, dan pengalaman moral dalam suatu kultur tertentu.

Etika normatif kerap kali disebut juga filsafat moral (moral philosophy) atau etika filsafati. Etika normatif berarti sistem-sistem yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk dan penuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik dan buruk, benar dan salah. Tidak seperti etika deskriptif, etika normatif tidak berbicara tentang gejala-gejala, melainkan apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan manusia. Dalam etika normative, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan.

Metaetika merupakan suatu studi analitis terhadap disiplin etika. Secara khusus, metaetika menyelidiki dan menetapkan arti serta makna istilah-istilah normatif yang diungkapkan lewat pernyataan-pernyataan etis yang membenarkan atau menyalahkan suatu tindakan. Dalam metaetika, logika perbuatan dalam kaitan dengan "baik" dan "buruk", "benar" dan "salah" coba untuk dianalisa.

II. 5 Estetika

Istilah estetika diperkenalkan oleh seorang filsuf Jerman bernama Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762) lewat salah satu karyanya. Menurutnya, estetika merupakan ilmu pengetahuan tentang keindahan. Secara etimologis, kata estetika berasal dari kata dalam bahasa Yunani aesthesis yang berarti pengamatan, pencerapan inderawi atau pemahaman intelektual.

Estetika merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan seni dan keindahan. Secara sederhana, dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan objek dari estetika. Sebab, dalam estetika, definisi, susunan, dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni, dibicarakan dalam estetika.

Karena objek estetika adalah keindahan, maka estetika tidak mempersoalkan seorang seniman. Tapi estetika menyelidiki apa-apa saja yang disebut "indah", prinsip-prinsip yang emndasari seni dan keindahan, pengalaman yang bertalian dengan seni dan keindahan, seperti penciptaan seni, penilaian terhadap seni atau perenungan atas seni dan keindahan. Dengan kata lain, dalam estetika, hakikat keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (seperti keindahan jasmani, keindahan rohani, keindahan seni dan keindahan alam), dan diselidiki emosi-emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, yang agung, yang tragis, yang bagus, yang mengharuskan dsb dibicarakan.

Estetika dibedakan ke dalam dua bagian, yakni estetika deskriptif dan estetika normatif. Estetika deskreptif menggambarkan gejala-gejala pengalaman keindahan. Ia menguraikan dan melukiskan fenomena pengalaman keindahan. Sedangkan estetika normatif mencari dasar pengalaman keindahan. Ia mempersoalkan dan menyelidiki hakikat, dasar dan ukuran pengalaman keindahan. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan apakah keindahan itu akhirnya sesuatu yang objektif (terletak dalam karya seni) atau justru subjektif (terletak dalam mata manusia sendiri).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar